ku berjuang sampai akhirnya Kau dapati aku tetap setia

Friday, April 21, 2017

Catatan Harian Jejak Langkah Misioner Ke Merauke edisi 06 "Berangkat Ke Kampung Aiwat" 8 April 2017

Catatan Harian Jejak Langkah Misioner, Sabtu 8 April 2017
“Berangkat ke Stasi Aiwat”
(tak ada listrik, sinyal dan kesulita air)

Sabtu pagi sesudah makan pagi, akhirnya kita berlima berpencar ke berbagai stasi yang telah dibagi pada malam hari. Saya mendapatkan stasi Aiwat. Stasi Aiwat dari paroki Getentiri hanya bisa ditempuh dengan naik kapal. Saya naik speed boat dengan jarak tempuh kurang lebih satu jam. Dengan speed boat yang melaju cepat, dikanan kiri terhampar hijaunaya hutan dengan sekali-kali hempasan ombak sungai Digul yang membuat kapal agak tergoncang mewarnai perjalanan kami.
Akhirnya tak terasa satu  setengah jam lamanya perjalanan, saya pun sampai di pinggir desa Aiwat. Bersamaaan dengan menepinya perahu kami, ternyata bapa ketua dewan stasi Aiwat yang berencana datang menjemput juga datang menepi. Ternyata karena keterlabatan, informasi, kami sudah datang terlebih dahulu. Jadi tak ada penyambutan, dan kami bersama anak dari ketua dewan stasi membawa barang-barang naik ke atas. Sampai di atas kami di sambut oleh ketua adat desa Aiwat dan membawa kami ke tempat istirahat di tempat orang biasanya mengadakan posyandu. Ngobrol bersama ketua dewan stasi dan ketua dewan adat sampai makan siang datang. Rambutan manis yang ada di depan kami beritirahat menambah sejuknya hawa panas yang menyengat.. Entah tak terhitung berapa kali ketua dewan stasi dan ketua adat minta maaf kepada kami atas keterlambantan dalam menyambut kami.

Sabtu sore, kami bersama para ibu-ibu serta anak-anak remaja. Latihan kor buat persiapan minggu daun. Disana minggu palma dikenal dengan sebutan minggu daun. Kami latihan sampai gelap datang dan hujan mulai turun. Tak ada penerangan listrik, hanya menggunakan nyala lilin. Sambil menunggu hujan reda, maka kami isi perut dengan makananan yang disediakan oleh masyarakat. Setelah hujan sedikit reda, saya pun pindah ke tepat kami bermalam selama kurang lebih satu minggu ditempat rumah ibu bidan. Rumah tersebut masih kosong, belum ditempati. Jaraknya kurang lebih 150 m dari gereja. Perjalan malam yang gelap, hanya dibantu dengan nyala lampu senter, terhenti oleh ular bisa hitam yang lewat. Seketika itu ketu dewan stasi ambil batang yang ada didsekitar lalu memukul ular itu, hingga ular tersebut kabur.

Akhirnya sampailah ditempat kami menginap. Dengan nyala lampu lilin. Saya mulai meletakan semua baraang-baranng yang dibawa. Ketua lingkungan juga datang untuk meminjamkan lentera dari minyak tanah sebagai penerangan. Sungguh suatu kebersamaan masyarakat yang kompak, mulai dari ketua adat, ketua dewan stasi, ketua lingkungan dan masyarakat bahu membahu untuk tamu yang datang. Walaupun gelap dan hujan kesana kemari mempersiapakan perlengkapan yang kami butuhkan, sungguh membuat saya kagum. Sabtu itu, ketua adat juga sedang mengusahakan bantuan bahan bakar dari perusahanan untuk pelaksananan rangkaian pekan suci Paskah. Dan harapannya senin sudah sampai perusahaan dan pelaksaan  tri hari suci paskah sudah ada nyala lampu.

“Kesederhanaan, kejujuran dan usaha yang bisa dilakukan untuk memberikan yang terbaik bagi yang datang tanpa mengenal lelah”

No comments:

Total Pageviews

Persembahan Hati

Mentega dengan Roti