ku berjuang sampai akhirnya Kau dapati aku tetap setia

Monday, November 7, 2011

Gorong-gorong

Menjelang siang yang panas, debu-debu mulai berterbangan di jalan raya. Jarak pandang mata serasa tertutup kabut. Jalan semakin sempit, mengingat ada pekerjaan pembuatan gorong-gorong saluran air. Sudah tak bisa dibayangkan macet terjadi jika menjelang bubaran sekolah atau kantor. Tak terbilang berapa orang yang mengeluh mengenai debu, macet dan semrawutnya jalan raya. Belum lagi, jalan-jalan kampung yang dibuat gorong-gorong, menambah jalan yang sempit semakin sempit lagi. Apalagi waktu siang, rumah-rumah pada tertutup rapat kala siang datang, mengingat debu-debu pada masuk ke rumah.

Kini ketika musim hujan datang, jalan-jalan yang biasanya tergenang air akibat hujan satu jam saja sudah tak terlihat lagi. Dulu sebelum dibuat tambahan gorong-gorong air, ketika hujan lebat rumah-rumah di sepanjang jalan merasa kuatir karena air hujan sering meluap dan masuk ke dalam rumah. Keluhan warga ketika musim hujanpun terucap. Kini ketika hujan datang dan tak terjadi banjir, rasanya orang sudah tak mengeluh.

Memandang diri sendiri, merasa dirugikan, merasa diganggu hal ini, itu rasanya sangat mudah terucap. Menahan diri, bersabar diri, dan mencoba memahami maksud dari suatu hal memang tidak mudah dilakukan. Namun ketika hal baik datang pada diri kita rasanya kita lupa akan proses apa yang sebelumnya terjadi. Sering terburu-buru menarik kesimpulan, hanya untuk mendapatkan sesuatu yang membenarkan diri kita, tentu sangat mudah dan sering kita lakukan.
Photobucket

No comments:

Total Pageviews

Persembahan Hati

Mentega dengan Roti