Tampilkan postingan dengan label cerita hari itu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita hari itu. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 25 Mei 2013

Serba-sebi pendakian Gunung Slamet 9-11 Mei 2013 #1 "Lonthong Super"



Hari kamis tanggal 9 Mei 2013 hingga hari Sabtu tanggal 11 Mei 2013, kami beerlima naik gunung Slamet, gunung tertinggi kedua di pulau Jawa setelah gunung Semeru.  Semua pada packing barang-barang sendiri. Seperti biasa aku membawa lima buah mie instans, 3 bungkus roti, susu, dan energen dan air mineral 3 lt. Bekal makanan ringan seperti roti sudah dimakan habis, saat perjalaan menuju Pubalingga serta  di pos satu. Kami naik dari base camp pagi pkl 08.30. Sehingga di pos satu kami tak berencana masak besar. Kami masak besar di pos tiga. Biasa lah seduh pop mie serta diberi irisan lonthong. Maklumlah lonthong yang dibawa cukup banyak, dan takut jika tak dimakan tentu akan basi, mengingat  hari kamis yang beli dan sekarang sudah hari Jumat.  Niatnya mau menghabiskan semua namun apa daya perut sudah kenyang, dan masih tersisia lebih dari 8 lonthong. Pertama kali kami makan, kami pun nyicipi jangan-jangan sudah basi, namun setelah dirasa ternyata belum, malah enak. Kami istirahat di pos tiga sekitar pukul 1 siang. 

Perjalananpun dilanjutkan hinga menjelang  malam pukul 20.00. kami pun beristirahat di pos enam, tak ada tenda, hanya bermodal matras, kain mantol, dan sleeping bag kami beristirahat sambil membuat makan malam. Menu malam  mie instant, dan tak ketingggalan lonthong yang kemarin dibawa  ternyata masih enak. Kami pun mengisi energi yang telah terkuras setelah hampir seharian berjalan. Dengan beratapkan bintang di langit, berselimutkan udara yang super dingin dan beralaskan tanah gunung Slamet, kami pun sukses tidak tidur, mengingat hawanya yang cukup dingin, serta lokasi kami tidur tempat jalur orang lalu lalang naik. Kami pun membuat api unggun, namun tak bisa nyala dengan besar mengingat banyak kayu-kayu yang masih basah. 
Tepat tengah malam pukul 00.00 kami melanjutkan perjalanan dari pos enam menuju ke pos tujuh. Melawan dinginnya malam, kami pun berjalan setapak demi setapak hingga sampai ke pos tujuh sekitar pukul 01.00. dan kami berisitrahat di pos tujuh  sambil menikmati pemandangan lampu-lampu kota yang sungguh indahnya. Di pos tujuh terdapat tempat buat para pendaki beristirahat,  setelah beristirahat sekitar satu jam lebih. Perjalanan berat kami lanjutkan hingga kami sampai ke puncak Gunung Slamet pukul setengah lima pagi.  Sambil menikmati sunrise, ada dari rekan kami yang masak di puncak dengan menu corned, dengan tak ketinggalan lonthong. Ternyata lonthong yang dibawa dari hari kamis kemarin ternyat masih enak. Selesai menikamti puncak gunung, kami pun turun. Baru di perjalanan pos keempat kami masak lagi mengingat jam sudah menunjukan pukul 11.00. Kami masak sarden dengan tak ketinggalan lonthong, yang ternyata masih enak juga. Dari hari kamis membawa sepuluh longhong, ternyata sampai perjalanan pulang hingga pos empa t, akhirnya lothong yang tersisa masih satu. Dan hebatnmya itu tidaka basi. 
Setelah dipikir-pikir, bukanlah hebatnya si pembuat lonthong yang menyebabkan lonthong tidak basi berhari-hari, namun berhubung hawa dinging gunung Slamet yang seperti Frezeer lah yang membuat lonthong mampu bertahan lama. Air mineral yang dibawa dalam tas saja , dingin seperti baru keluar dari lemari es. Hehehehe…sungguh nikmatnya...hawa dingin....hidup lonthong.....^-^

Selasa, 01 Mei 2012

"Kapan, kita akan bersahabat seperti dulu lagi?"




friendship quotes Pictures, Images and Photos

Teringat saat dulu, kita selalu menghabiskan senja dengan berbagai cerita, baik suka ataupun duka. Tak jarang pula, mentari belum terbit di ufuk timurpun kita sudah saling berbagi cerita. Berbagai tempat di sudut kota tercinta, rasanya pernah kita singgahi dengan bumbu cerita kita. Tak jarang dari mata yang mulai berkaca-kaca, hingga tangis air mata sering mewarnai akhir cerita kita. Gelak tawa, canda selalu hadir dalam kisah perjalanan kita. Tak jarang diam sesaat dan marahpun menerpa kita, namun itu hanya sesaat.

Perjalanan panjang dan berat pernah kita lewati. Mengejar asa di ibu kota, namun tak mendapatkan hasil apa-apa. Berjalan tak tentu arahpun pernah beberapa kali kita lewati dengan akhir yang indah namun melelahkan. Masih ingat diingatan, beberapa kali masalah berat dan tak cukup mudah diselesaikan, kita saling cerita hingga larut malam. Walaupun tak menemukan penyelesaian saat itu juga, namun rasanya lega bisa saling berbagi.

Entah bagaimana dulu kita bisa saling mengenal. Semuanya mengalir begitu saja. Selama 8 tahun kita bersama-sama. Banyak hal yang dapat saling memperkaya kita satu sama lain, diantaranya dalam hal memperjuangkan cinta. Jatuh bangun dalam memperjuangkan cinta masing-masing, saling kita bagikan dan mampu menguatkan satu sama lain.

Walaupun kini kita sudah mempunyai kehidupan masing-masing. Dan jarak telah memisahkan kita, namun pernah beberapa kali kita menyempatkan bertemu dan berbagi cerita. Hingga saat terakhir kita bertemu di tahun 2011. Tak menyangka di tahun itu pula, jarak benar-benar telah memisahkan kita. Bukan lagi jarak dua tempat yang benar-benar jauh, namun jarak hati yang sekarang nampak jauh dan semakin jauh. Hanya karena sebuah kesalahan kecil, yang melukai hati. Kata maaf yang berkali-kali terucappun tak mampu membalikan keadaan seperti semula. Sampai detik inipun, tak ada yang memulai terlebih dahulu. Mulai mencoba memperbaiki persahabatan seperti awal kita bertemu. Dalam hatipun sering bertanya, "Kapan kita akan bersahabat seperti dulu lagi?"


Sabtu, 21 April 2012

Efek dari semalam ronda malam adalah ngantuk

Hari Sabtu ini temanya ngantuk... Setelah semalam dapat jadwal ronda malam dari jam sebelas malam hingga setengah empat pagi. Maklumlah baru pertama kali kelompok malam sabtu melakukan jadwal ronda. Anggota kelompok yang berjumlah delapan orang semuanya lengkap. Maklumlah baru jaga pertama kali setelah seminggu kemarin dimulai. Sekitar satu jam an 'thethek' di gapura masuk kampung, lokasi pindah ke timur kantor RW. Dengan beralaskan tikar main kartu, dengan ditemani kopi panas dan gorengan.

Sekitar setengah satu giliran yang tua-tua berkeliling kampung, sementara yang masih muda jaga dan tinggal di pos. Baru sekitar jam dua pagi, giliran yang masih muda-muda gantian berkeliling. Sekitar setengah empat rondapun berakhir. Semua kembali ke rumah masing-masing.

Efeknya sekitar setengah tujuh pagi, keponakanku membangunkanku dan bilang, "om, airnya udah mateng, tolong dimasukan ke dalam termos." karena aku masih ngantuk, akupun bilang, "ah, tar dulu masih ngantuk." lalu Amel bilang ke ibunya, "om Galih gak mau." Baru sekitar setengah delapan aku bangun, melihat ke meja belakang tampak termos terbuka dan kosong. Aku lihat di belakang, ternyata ceret masih mengepul, maklumlah menggunakan arang. Langsung aja ku masukan ke dalam termos dan beruntunglah termos terisi penuh dan langsung aja kugunakan tuk membuat kopi hehehe.

Siang pulang dari kotabaru habis latihan koor dan setelah menyantap mie ayam, agenda selanjutnya tidooor sampai pukul setengah lima sore. Walaupun sudah tidur siang cukup, nampaknya masih saja malas beraktivitas. Selesai nonton derby London yang berakhir 0-0, dilanjutkan tiduran lagi sambil nulis blog. Masih ada sekitar 3 jam buat istirahat sebelum nonton El classico. Tuk el classico malam nanti, aku pegang Madrid. Semoga nanti bisa terbangun...

Cukup sudah berkegiatan di hari ini. Hari yang sebenarnya tak melelahkan namun bawaannya masih 'aras-arasen.' Besok pagipun tak ada sekolah minggu, namun ada tugas koor manten, jadi sama saja harus bangun pagi...hua.... :)

Terima kasih Tuhan buat hari ini...

Kamis, 19 April 2012

Sepenggal kisah di hari Kamis

pensil Pictures, Images and Photos

Sepenggal kisah di hari kamis sore hingga malam hari ini, diawali sekitar pukul empat sore. Seperti biasa tiap kamis sore harus mendampingi adik-adik kelas 4 SD belajar di Sambel. Sudah kurang lebih 3 kali pertemuan saya tidak datang, baru hari kamis ini bisa lagi menyempatkan waktu. Sampai di Sambel ternyata sudah ada pendamping yang mengajar. Lalu kulangkahkan kaki ke gereja Kumetiran, karena ada urusan lain dengan mas Pur (koster). Ketemu koster buat nitipkan bulletin Kompak edisi Januari yang lalu untuk diambil suster Stanlis hari Sabtu pagi. Katanya hari minggu, bulletin kompak yang berisi Natalan di Hellen Keiller mau dibawa ke Belanda. Dicari di kamar tak ada, yasudah aku tunggu di tangga pintu masuk gereja sambil menikmati irama senam lansia. Tak berapa lama datang mas Pur, kuserahkan buletin kompak dan bilang besok sabtu pagi akan diambil suster Stanlis. Mas Pur bilang, "kok gak ada yang lain po? Itu bagian belakan sobek." ku jawab saja, "wah aku malah gak tau je mas, ah yang penting berita dan liputan di dalamnya kok." "memang yang lainnya gak ada?" tanya mas Pur. "Gak ada mas," jawabanku selain malas mencari. Dan tugaspun telah selesai.

Mendungpun mulai bergerak dari arah utara, sesampainya di gereja Kotabaru pukul lima sore hujanpun turun. Rasa terima kasih kepada Tuhan, karena hujan turun pas saya tiba di gereja. Sekitar duapuluh menit doa pribadi dan dilanjutkan doa rosario. Setengah enam kurang lima menit, langkah kaki menuju ke panti koor. Awalnya hanya enam orang maklum cuaca lagi hujan jadi tak sebanyak seperti biasa. Namun lambat laun bertambah lima orang. Putera altarpun hanya seorang dengan rambut basah akibat kehujanan. Misa sore ini dipimpin oleh rm.Andalas, SJ. Seperti biasa jika yang memimpin romo Andalas petugas koor menerima komuni dua rupa. Lagu pembuka hingga komuni aman karena tak ada keterangan solis (s). Asal ada kata s (solis) di lagu tanpa dikomando pasti langsung ada yang nyelonong jadi solis hehehe. Ketika lagu penutup dari MB 435 benar ada tulisan solis. Dan bisa ditebak langsung ada solis yang nyelonong dengan PD. Misapun berakhir sekitar pukul enam sore. Daripada menunggu satu jam janjian dengan teman. Akupun mampir dulu di angkringan depan Widyamandala. Sampai di angkringan sudah ada koster gereja Kotabaru sedang menyantap dua bungkus nasi yang dijadikan satu. Akupun memesan segelas teh panas. Kamipun mengobrol, dan akupun dibilang orang yang rajin misa sore di kotabaru (tuambah besar kepalaku hehehe). Beliau juga cerita dulu sewaktu romo Bono masih di seminari Kentungan sering meditasi bersama dalam kelompok. Sewaktu aku beritahu penjaga malam di gereja Kumetiran mbah Totok meninggal, diapun kaget. Mas koster (aduh maaf aku lupa namanya) pun tak bisa berlama-lama karena harus bekerja lagi.

Sekitar setengah tujuh malam aku meninggalkan angkringan. Menuju kapel pastoran Gereja Kidul loji. Awalnya memang sekitar pukul tujuh malam ada janjian dengan wartawan senior majalah rohani. Sesampainya di gereja kidul loji kembali aku sms, bahwa aku sudah sampai. Akupun tak menunggu balasannya. Pikirku daripada aku menunggu diluar lebih baik kugunakan waktu untuk berdoa di kapel pastoran tempat piscis berisi purificatorium mengusap darah tempat hosti hilang terjatuh. Sesampainya di depan kapel disediakan buku tamu. Dan kutulis namaku diurutan 277. Di dalam sudah ada sekitar 13 umat yang berdoa dengan kusyuknya. Keadaan di dalam kapel sendiri terdapat altar kecil dengan dua lilin. Disampingnya gambar kerahiman Yesus dengan ukuran besar terbingkai dengan indahnya.. Dibelakang altar kecil terdapat tabernakel. Diatas tabernakel inilah terdapat piscis yang berisi purificatorium yang ada bekas noda darah. Diatasnya piscis terdapat purificatorium untuk membungkus piscis ketika hendak mau dimasukan ke tabernakel. Hanya sujud syukur, menunduk, dan doa yang terucap. Dan tanpa terasa matapun berkaca-kaca.

Sekitar duapuluh menit berdoa di dalam kapel. Akupun keluar, lalu kuaktifkan kembali hp ku. Benar saja ada sms dari temanku, bahwa hari ini tak jadi meliput. Akupun tak langsung pulang, akupun duduk di ruang tamu pastoran ngobrol dengan koster gereja Kidul loji. Katanya kapel pastoran mulai ramai atau dibuka untuk umum mulai hari ini. Hari selasa dan rabu kemarin masih sistem buka tutup. Ngobrol ngalor ngidul pun diakhiri sekitar pukul setengah sembilan malam. Turut nimbrung ngobrol pak joko bing dan isterinya.

Sepenggal kisah di kamis sore ini, menyisakan pengalaman aku tiga kali berjumpa dan ngobrol dengan ketiga koster dari gereja yang berbeda. Sore hingga malam mengunjungi ketiga gereja yang berbeda dengan tugas dan keperluan yang berbeda pula. Sungguh hari kamis yang meneguhkan dan menguatkan aku. Terima kasih Tuhan atas penyelenggaranMu dalam hari-hariku.

Kamis, 12 April 2012

siap-siap Ronda malam


Dalam beberapa bulan terakhir ini di kampungku marak dengan yang namanya pencurian. Berturut-turut warga kampung ada yang rumahnya kemalingan tas berisi uang jutaan di dompet. Lalu penjual gudeg yang biasa jualan di pagi buta, kehilangan satu panci berisi telur beserta krecek. Biasanya penjual gudeg ini memang terbiasa meninggalkan gerobak gudegnya untuk mengambil makanan lainnya di rumah. Namun apes hari itu, setelah ditinggal sebentar saja satu panci besar gudeg telur hilang. Entah berapa jumlah telur yang ada didalamnya. Yang tersisa hanya nasi beserta gudeg bersama gerobaknya.

Setelah itu ada warga yang kehilangan laptop. Pencurinya mencongkel jendela. Sempat ada tetangga samping rumah yang sekitar pukul duaan pagi melihat, namun karena malam takut apakah yang dilihat itu orang atau hantu. Makanya diam saja dan tak mengira bahwa ternyata yang dilihat benar-benar pencuri. Setelah itu ada warga penjual arang yang kehilangan empat karung besar arang. Ada juga penjual di pasar yang kehilangan bandul timbangan.

Semakin seringnya warga yang kehilangan, membuat jengkel warga kampung beserta pengurus di tingkat kampung. Maka untuk berjaga dan menangkap para pencuri yang aktif berkeliaran di kampung, kebijakan dari tiap RT mulai lagi digalakan ronda malam/siskamling. Jadwal ronda dimulai dari pukul 23.00-03.00 pagi. Bagi bapak-bapak dan orang muda diwajibkan untuk jaga ronda sesuai dengan jadwal yang disusun.

Dikala kebutuhan hidup yang mahal dan tak tersedianya penghasilan yang cukup, banyak orang yang mengunakan cara pintas dengan mencuri. Dari uang, empat karung arang bahkan sampai satu panci berisi telur gudegpun dicuri. Sungguh sampai segitunya pencuri itu. Namun dari cerita yang beredar di kampung, pencuri itu pasti menyesal waktu mengambil tas yang berisi uang. Ternyata di dalam tas itu juga terdapat emas yang harganya lebih dari lima juta. Pencuri hanya mengambil uang yang ada didompet lalu membuang tasnya di sungai. Beruntunglah tasnya diketemukan oleh orang. Dan perhiasannya dapat kembali lagi.

Yang membuat heran itu orang yang tega mencuri satu panci berisi telur. Kenapa kok tidak sekalian nasinya, apa mungkin hanya butuh telurnya saja? Untuk dijual atau dimakan sendiri motifnya masih tanda tanya dan membuat tertawa. Pencurian empat buah karung berisi arang ini yang barusan terjadi. Seorang pedagang arang kehilangan 4 karung arang. Duh ini komplotan pencuri memang, apa yang dilihat langsung disikat kali. Tak peduli panci telur gudeg hingga arang pun ikut dicuri. Semoga dengan diadakannya ronda malam, keadaan kampungku menjadi aman lagi. Dan semoga ronda malam yang mulai diadakan hari Sabtu esok dapat membuahkan hasil. Dapat menangkap pencuri basah-basah. Semoga!!!

Rabu, 08 Februari 2012

Menikmati teh poci di Wonogiri

Teh Poci Pictures, Images and Photos

Sungguh nikmat menikmati hangatnya teh poci di daerah pedesaan diperbukitan Wonogiri. Setelah melakukan perjalanan panjang kurang lebih tiga jam dari Jogja. Tepat tengah malam kami sampai di daerah Danan Wonogiri. Perjalanan tujuan memang di Gua Maria Danan Wonogiri, namun untuk mengisi perut dan menghangatkan badan perjalanan dilanjutkan lagi kira-kira delapan kilo meter lagi dari Sendang ke arah timur. Kurang lebih sepuluh menit sampailah di sebuah rumah khas pedesaan. Dengan halaman yang luas, disertai emperan di luar dan isi rumah yang cukup luas, tak disangka di tempat itu di jajakan teh poci yang cukup nikmat.

Jam sudah menunjukkan tepat jam setengah satu malam. Nampak warung teh poci ramai dikunjung oleh bapak-bapak. Dengan lesehan duduk di emperan rumah, nampak berjejer meja-meja kecil yang ditata memanjang.
Suasana pedesaan nampak kental sekali dengan suara radio yang mendengarkan siaran wayang kulit.

Duduk di emperan luar, sambil ngobrol menunggu pesanan. Tak berapa lama secangkir kecil dengan isi tiga buah gula batu disajikan bersama satu teko panas. Gelas kecil dengan tutup beserta teko semua terbuat dari tanah liat, menambah nikmatnya rasa teh. Sambil menunggu pesanan mie rebus, disajikanlah gorengan mendoang, dan tahu goreng panas. Sungguh nikmatnya, menikmati tengah malam di Wonogiri dengan bercengkerama bersama sahabat di warung teh poci. Tak disangka di tempat yang sepi jauh dari keramaian, ada sebuah warung teh poci yang suasananya tak dijumpai di kota Jogja.
-040212Danan Wonogiri-

Kamis, 17 November 2011

Rejeki itu memang sudah ada yang mengatur

"Rongsokan-rongsokan, rongsokan né mas...," suara seorang ibu-ibu tua keliling dari pintu rumah satu ke pintu rumah yang lain. Berharap mendapat barang-barang bekas yang mau dijual oleh pemilik rumah. Dengan menenteng karung goni, berjalan tak kunjung lelah, sambil terus berteriak-teriak. Aku berpikir, hampir setiap hari ada saja orang yang berkeliling mencari barang-barang bekas, apa mungkin ibu ini akan mendapat barang-barang bekas di kampung ini? Eits...tunggu dulu, rejeki memang sudah ada yang mengatur setiap hari. Pikiran manusia memang tak mungkin, namun campur tangan Dia tentu sungguh luar biasa. Seperti burung yang setiap hari tak menabur, namun ia selalu menuai, selalu dikenyangkan. Rejeki juga dapat dibayangkan seperti lalu lalang kendaraan umum yang mengangkut penumpang. Dalam satu jalur bus kota tentu terdiri dari puluhan kendaraan yang lewat di jalur yang sama. Namun bisa dilihat setiap kendaraan umum yang lewat selalu ada penumpangnya. Lagi-lagi semua yang berkaitan tentang rejeki sudah ada yang mengatur.

Walaupun rejeki sudah ada yang mengatur, namun lihatlah ada kesamaan dari ketiga peristiwa diatas. Semuanya berusaha, semua beranjak, bergerak, bekerja, mengeluarkan keringat untuk mendapatkan rejeki. Tak ada kata bermalas-malasan berharap ada rejeki yang jatuh tiba-tiba dari langit. Selama masih muda, bergerak, berkarya dan bekerjalah dengan giat. Maka jangan lupa untuk mengawali aktivitas setiap hari dengan berdoa. "Berilah rejeki kami pada hari ini."
Photobucket

Selasa, 08 November 2011

Terima kasih buat hari ini

Candle

Dalam hidup yang sudah ku jalani hampir setengah perjalanan ada 3 hari, yaitu :
Yang pertama :
Hari kemarin.
Aku tak bisa mengubah apa pun yang telah terjadi, aku tak bisa menarik perkataan yang telah terucapkan. Aku tak mungkin lagi menghapus kesalahan, dan mengulangi kegembiraan yang pernah kurasakan kemarin. Aku juga tak mungkin lagi menghadirkan orang-orang yang sudah pergi mendahuluiku. Tetes air mata yang sudah jatuh rasanya tak kan dapat dikembalikan lagi. Biarkan hari kemarin lewat...biarkan masa lalu berlalu...

Yang kedua.
Hari Esok
Hari esok, ketika mentari terbit. Aku tak tahu apa yang akan terjadi. Susah, senang, semuanya masih tetap tanda tanya. Esok hari belum tiba, ku biarkan saja...dan ku tetap menunggu. Namun ku tetap percaya, penyertaanMu senantiasa besertaku sampai akhir jaman.

Yang ketiga.
Hari ini.
Pintu masa lalu telah tertutup, pintu masa depanpun belum tiba. Menjalani hari ini dengan terus belajar memaafkan hari kemarin dan melepaskan ketakutan akan esok hari. Hari ini yang kusadari, banyak orang yang begitu perhatian kepadaku, terima kasih telah menjadi bagian dalam perjalanan hidupku. Terima kasih telah saling menguatkanku dalam segala perkara, sehingga aku masih dapat tegar berdiri. Hanya doa yang dapat aku persembahkan buat kalian semua. Terima kasih...
Photobucket

Senin, 07 November 2011

Gorong-gorong

Menjelang siang yang panas, debu-debu mulai berterbangan di jalan raya. Jarak pandang mata serasa tertutup kabut. Jalan semakin sempit, mengingat ada pekerjaan pembuatan gorong-gorong saluran air. Sudah tak bisa dibayangkan macet terjadi jika menjelang bubaran sekolah atau kantor. Tak terbilang berapa orang yang mengeluh mengenai debu, macet dan semrawutnya jalan raya. Belum lagi, jalan-jalan kampung yang dibuat gorong-gorong, menambah jalan yang sempit semakin sempit lagi. Apalagi waktu siang, rumah-rumah pada tertutup rapat kala siang datang, mengingat debu-debu pada masuk ke rumah.

Kini ketika musim hujan datang, jalan-jalan yang biasanya tergenang air akibat hujan satu jam saja sudah tak terlihat lagi. Dulu sebelum dibuat tambahan gorong-gorong air, ketika hujan lebat rumah-rumah di sepanjang jalan merasa kuatir karena air hujan sering meluap dan masuk ke dalam rumah. Keluhan warga ketika musim hujanpun terucap. Kini ketika hujan datang dan tak terjadi banjir, rasanya orang sudah tak mengeluh.

Memandang diri sendiri, merasa dirugikan, merasa diganggu hal ini, itu rasanya sangat mudah terucap. Menahan diri, bersabar diri, dan mencoba memahami maksud dari suatu hal memang tidak mudah dilakukan. Namun ketika hal baik datang pada diri kita rasanya kita lupa akan proses apa yang sebelumnya terjadi. Sering terburu-buru menarik kesimpulan, hanya untuk mendapatkan sesuatu yang membenarkan diri kita, tentu sangat mudah dan sering kita lakukan.
Photobucket

Kamis, 03 November 2011

Hanya untaian doa

Karangan Bunga

Mendung sudah mengelayuti langit kota menjelang sore. Awan hitam merata di atap kota. Tinggal hitungan detik hujan deras pasti turun. Benar juga tak berapa lama hujan turun dengan derasnya. Hujan yang disertai angin, ah rasanya hal yang paling menakutkan. Teringat akan tahun lalu, hujan dan angin kencang memporak porandakkan atap genting rumah.
Hujan sore itu, membuat rasa cemas semakin menjadi-jadi. Sambil berdoa dalam hati, agar angin tak lagi memporak porandakan atap rumah. Tepat pukul 15.45 hujan deras berangsur-angsur reda. Awan kelam seperti tlah disibakkan dan berganti dengan awan putih. Kulangkahkan kaki untuk mengikuti perayaan ekaristi arwah. Baru kali ini aku tak membawa keranjang bunga untuk dimintakan berkat.

Misa berlangsung satu jam, dan tak turun hujan setetespun.
Setelah perayaan selesai,baru aku merasa ada yang kurang. Biasanya kami lalu pergi ke pusara bapak, simbah serta sanak saudara yang meninggal untuk tabur bunga. Namun kali ini tak ada tabur bunga
Walau tak ada untaian bunga di pusara, namun semoga keharuman doa yang kami panjatkan senantiasa membumbung tinggi ke Rumah Bapa di surga, Amin.
Photobucket

Rabu, 21 September 2011

Hal yang memberatkan dan hal yang meringankan

Jesus Christ Pictures, Images and Photos

Melihat tayangan televisi yang lagi menayangkan pembacaan vonis hukuman bagi para terdakwa kasus korupsi siang ini, membuat aku berpikir. Ada yang sudah menjadi ciri-ciri kas, menjelang hakim membacakan vonisnya apakah tersangka terbukti bersalah atau tidak. Jika ternyata tak bersalah maka akan terhindar dari hukuman. Namun jika terbukti secara sah dan menyakinkan secara hukum, maka akan menerima hukuman sesuai dengan keputusan majelis hakim. Sebelum vonis berapa tahun dipenjara selalu ada kata-kata, hal-hal yang memberatkan dan hal-hal yang meringankan.

Sebuah kalimat yang menyatakan hal-hal yang memberatkan dan hal-hal yang meringankan terdakwa. Biasanya hal-hal yang memberatkan dalam kasus korupsi sering dinyatakan tindakan dari terdakwa itu kontraproduktif dengan apa yang dicanangkan oleh pemerintah mengenai pemberantasan korupsi. Hal yang meringankan biasanya tersangka berkelakuan baik selama di pengadilan, belum pernah di penjara, atau tersangka masih muda dan masih punya kesempatan untuk memperbaikinya.

Pikiranku jadi melayang jauh, apakah kelak ketika aku menghadapi "Pengandilan yang terakhir" apakah sang "Hakim Agung" akan mengatakan hal-hal yang memberatkan dan hal-hal yang meringankan? Apakah aku juga akan sama duduk diam di kursi, sambil mendengarkan sang Hakim Agung membacakan satu persatu hal-hal yang memberatkan dan hal-hal yang meringankan sambil tertunduk lesu? Banyakan mana hal-hal yang memberatkan ataukah hal-hal yang meringankan? Memang pengadilan Tuhan itu berbeda dengan pengadilan manusia. Di bumi mungkin hakim dapat salah mengambil keputusan, tetapi tidak untuk pengadilan terakhir. Semuanya telah tercatat dan tersusun rapi. Mata kasihNya tak pernah salah dalam membaca perjalanan hidup manusia.

Lalu tiba saatnya dibacakan deretan hal-hal yang memberatkan dengan jumlah yang tak terhitung, salah satunya mengulang-ngulang dosa yang sama, tak mendukung gerakan cinta kasih yang sudah lama digalakan, usia masih muda tetapi sudah banyak pelanggaran yang dibuat. Masih banyak lagi hal-hal yang memberatkan dan membuatku lemas rasanya tak ingin lagi kudengar. Pikiran sudah kemana-mana.
Kini tibalah dibacakan hal-hal yang meringankan. Lalu kataNya, "Taukah kamu hal-hal yang meringankan mu jumlahNya tak lebih dari lima." Tambah lemaslah aku. Namun kataNya, "Walau dosa dan pelanggaranmu banyak, namun berkat kerahimanKU, berkat belas kasihKU kepadamu, Aku menghapuskan segalah hal-hal yang memberatkanmu, kini masuklah ke dalam Rumah BapaKU"

Terima kasih Tuhan karena Engkau sungguh Maharahim.
Photobucket

Sabtu, 17 September 2011

Buat yang lagi bertengkar

hug Pictures, Images and Photos

Pikiranku itu bukan pikiranmu dan pikiranmu bukanlah pikiranku.
Jadi apa yang kamu pikirkan itu baik, belum tentu baik bagiku.
Ketika aku melihat kamu tak sejalan denganku sungguh sangatlah wajar.
Janganlah coba-coba memaksa mereka, untuk selalu menuruti alur pemiikiranmu.
Ingat pemikiranku walau itu baik, belum tentu baik bagi mereka juga.
Sampai kapan mau terus memaksakan mereka menuruti semua perintahmu?
Jika mereka tak mau, hanyalah amarah yang ada padamu.

Siapa kamu yang dapat sewenang-wenang menilai orang lain?
Apakah kamu tak mau mengalah dengan egomu?
Memang aku, kamu terkadang merasa hebat.
Kehebatan, kepintaran yang sering membuat kita pecah.
Ya...biasanya hanya masalah kecil.
Masalah sepele, namun tak mudah mengalahkan sebuah ego.

Cobalah tuk sekedar undur diri
Lihat diri kita sendiri
Apakah kita lebih mudah melihat selumbar kayu dalam mata orang lain?
Padahal terdapat gajah dipelupuk mata kita sendiri.
Menunjuk orang itu lebih mudah daripada menunjuk diri sendiri.

Ingatlah waktu kita kecil dulu.
Walaupun kita sering bertengkar, berkelahi dan tak jarang saling musuhan
Namun semuanya tak berlangsung lama.
Tawa dan canda langsung menghiasi setelah tangis memecah.
Waktu anak-anak kita tak pernah mendendam.
Namun kenapa ketika pemikiran kita yang katanya sudah dewasa, malah sering kalah dengan pemikiran anak-anak?

Ego...gengsi...harga dirikah, yang membuat kita tak mau mengalah?
Sikap mengalah yang mau menghargai dan mau memaafkan.
Seperti nampak pada tokoh Bapak yang mau menerima kembali anak bungsu yang telah pulang ke rumah.
Setelah si bungsu menghabiskan harta warisan bapaknya untuk foya-foya.
Di jaman ini memang lebih banyak figur anak yang sulung daripada figur bapak.
Anak sulung yang merasa paling benar sendiri, paling berhak sendiri.
Melihat kesalahan "si bungsu" / orang lain justru malah membuat jarak dengan mencela, menceritakan pada orang lain.
Bukannya berlari mendekati dan memberi pengampunan serta memberi tahu jalan yang baik.

Entah berapa banyak lagi perumpamaan, kisah ataupun cerita yang dapat menyadarkan kita untuk mengalahkan ego kita sendiri.
Photobucket

Sabtu, 10 September 2011

Suara Radio di kala listrik tak mengalir

radio kuno Pictures, Images and Photos

Ketika mati listrik hampir seharian ternyata ada yang dikangenin yaitu suara radio. Malam hari tanpa listrik mengalir yang tersisa hanya sunyi senyap. Tak terdengar suara jangkrik, apa lagi suara katak seperti di desa. Suara radio yang menyiarkan ketoprak, uyon-uyon dan wayang kulit tak terdengar lagi.

Hampir setiap rumah, radio usang dengan batu battery tak dijumpai lagi. Berganti dengan mini compo, mp3, komputer dan media elektronik lainnya. Semua teknologi itu mengandalkan arus listrik dari PLN. Akibatnya jika mati listrik seharian, yang tertinggal hanya kesunyian. Mati listrik selama 24 jam, dijamin banyak orang yang kelimpungan, mengingat hp, blackberry mereka yang butuh segera asupan listrik.

Ternyata suara radio masih dikangenin, jika kepentok dengan mati listrik. Tapi apalah daya, radio sudah tak punya. Mau mendengarkan mp3 atau radio dari hp tak mungkin karena batterynya sudah mulai habis. Ya...apalah daya sambil menunggu listrik menyala, tak ada suara musik. Hanya kesunyiaan malam, sambil berharap listrik segera mengalir.
Photobucket

Kamis, 08 September 2011

Senja hari di selasar rumahMu

Photobucket

senja hari aku mencoba mampir di selasar rumahMu
ku duduk sendiri sambil melihat langit sore ditemani dengan angin yang mulai dingin
rumahMu kok terasa sepi?
apa mungkin hanya perasaanku sajakah?
atau jiwaku memang lagi sepi?
kulihat sepanjang selasar sepi
ku tengok ke dalam juga sepi

lho bukannya dengan suasana sepi kamu justru lebih jelas mendengar suaraNya?
selalu saja alasan demi alasan yang terdengar
suasana sepi salah, suasana ramai juga salah?
lalu mau mu apa?

senja hari ini memang rumahKu sepi
namun kini tak sepi lagi
ada kamu yang datang dan menemaniKu
janganlah hanya terdiam di selasar
masuklah ke dalam Aku rindu mendengarkan segala keluh kesahmu

akhirnya akupun pergi meninggalkan selasarMu
pergi bukan untuk masuk kedalam
namun justru melangkah pergi
ah...memang antara hati perkataan dan perbuatan
ini rasanya masih tak sejalan
lebih menang suara godaan yang hilir mudik di sekitarku
maafkan aku karena di senja itu aku telah mengecewakanMu
-siGal-

Sabtu, 06 Agustus 2011

Ada doa dari kami buat saudara-saudari kami yang lagi menjalankan ibadah puasa

Tak terasa hampir satu mingggu saudara-saudari kami yang muslim menjalankan ibadah puasa. Suasana yang sungguh berbeda ketika memasuki bulan Ramadhan, seperti jalan-jalan yang dulunya sepi menjadi ramai di sore hari. Banyak penjual yang berderet-deret menjajakan menu buka puasa. Ketika sore jam tiga para pedagang sudah menjajakan jualannya. Mau apa saja, semua menu rasanya ada tinggal pilih saja. Dan suasana jajanan sore itu, buat aku yang tak berpuasapun ikut meramaikan wisata kuliner tiap kali senja datang.

Hari Jumat kemarin, jika saudara-saudara kami yang muslim siangnya sholat Jumat di masjid, bagi kami yang Nasrani jumat kemarin merupakan jumat pertama dalam bulan. Jumat pertama secara khusus digunakan bagi kami yang Nasrani untuk berdoa secara khusus kepada Hati Kudus Yesus. Biasanya diadakan misa tiap pagi atau sore hari.

Jumat kemarin kebetulan saya misa Jumat pertama di Gereja St.Antonius Kotabaru. Saya lewat di di depan Masjid Syuhada Kotabaru, menjelang sore semakin ramai orang beraktivitas di dalam tempat ibadah itu. Setelah alunan orang membaca Al Quran selesai, terdengar dari luar acara dilanjutkan dengan bedah buku.

Tak jauh dari Masjid itu berdiri gereja Kristen HKBP, sebuah sepanduk yang menempel di pagar gereja yang bertuliskan, "Selamat Menjalankan Ibadah Puasa dari jemaat HKBP" terpampang jelas dari pinggir jalan. Sebuah sapaan dan ucapan bagi saudara-saudara yang lagi menjalankan ibadah puasa.

Dan tak jauh dari kedua tempat ibadah itu berdiri gereja Katolik St.Antonius Kotabaru. Disitulah tempatku merayakan Ekaristi sore itu. Ketika waktunya doa Syukur Agung (Doa yang paling utama dalam perayaan ekaristi) yang dipimpin oleh Romo teruntai sebuah doa bagi saudara-saudara kami yang saat ini lagi menjalankan ibadah puasa.

Ya..Rasa bersyukur atas suasana damai yang boleh kami rasakan, atas kebersamaan yang sudah terjalin baik selama ini. Semoga akan terjalin terus selamanya. Dan doa dari kami, agar saudara-saudari kami dapat menjalankan ibadah puasa dengan penuh hikmah, dan pada akhirnya dapat kembali ke fitrahnya.
Selamat menjalankan ibadah puasa.
-siGal-

Menulis dari hati

Jurnalistik kasih sayang adalah jurnalistik yang dibangun atas dasar cinta kasih. Jujur pada sumber dan terutam jujur pada diri sendiri. -Arswendo Atmowiloto

Lama berkecimpung dalam dunia tulis menulis rasanya menuju sebuah jurnalistik kasih sayang merupakan hal yang tidak mudah. Berita yang seharusnya netral terkadang berat sebelah. Kritik-kritik yang dikeluarkan rasanya tidak terbalut dalam rangka kasih sayang. Lebih cenderung dominan balutan emosi sesaat penulis, biar disebut kritis katanya.

Belajar dari kasus Nazaruddin yang membuat media menjadi terkena imbasnya. Ada yang bilang tak berimbang, ada yang bilang asal menjadikan berita untuk memojokan seseorang atau pihak tertentu. Ada yang bilang masih sesuai dengan treknya. Sangat wajar sekali bila ada pro dan kontra mengenai sebuah pemberitaan dari sebuah media.

Sudah barang umum orang tau bahwa media itu selalu ada yang punya. Siapa pemiliknya tentu akan mempengaruhi materi dalam pemberitaan dan itu sudah merupakan hal yang wajar. Tengok saja berita pendirian ormas Nasional Demokrat diberbagai daerah yang selalu diberitakan di Metro TV, tidak pernah diberitakan oleh stasiun televisi lain. Begitu juga dengan hal yang berkaitan dengan ketua umum Golkar tidak pernah luput dari pemberitaan TV ONE. Ditataran nasionalpun terlihat jelas pemberitaan sudah tak berimbang.

Dalam lingkup skala yang terbatas seperti dunia blog, bagaimana menerapkan jurnalistik kasih sayang sangat perlu diasah hari demi hari. Bagaimana membalut kekritisan kita yang tajam dalam balutan kasih sayang. Sebuah hal yang tentunya tidak mudah, dibutuhkan ketenangan hati dan sebuah tawaran solusi untuk mengurai suatu masalah.

Walaupun sudah menerapkan jurnalistik kasih sayang, tak mungkin dapat menyeragamkan gaya bicara dan hasil karya tulis dari setiap penulis. Karena setiap penulis selalu mempunyai ciri tersendiri, karakter sendiri, watak dan kemampuan yang membedakan satu sama lainnya. Sehingga apa yang dihasilkan oleh penulis selalu berbeda satu sama lain walaupun idenya sama.

Melakukan jurnalistik kasih sayang tanpa sadar dapat semakin mengenali jati diri kita, semakin mengenal siapa diri kita. Dalam sebuah tulisan orang dapat mengetahui kejujuran kita. Sebuah tulisan yang tanpa sadar dapat membuat dan membentuk perspektif orang mengenai diri kita yang sebenarnya.
Sebuah tulisan dapat mengandung 1000 arti, tetapi yang pasti selalu ada satu makna yang berarti tuk dapat dimengerti. Sudahkah kita menulis dengan jujur selama ini?
-siGal-

Jumat, 29 Juli 2011

Tukang Protes

Jika hari ini listrik tak mengalir seharian...
Maka sudah tak terhitung lagi berapa kali petugas PLN menjawab telepone dari warga masyarakat yang bertanya. Bertanya dengan baik-baik, atau protes dengan membentak-bentak mengingat pekerjaan jadi terbengkalai. Padahal kalau dipikir masih banyak daerah pelosok yang belum mendapat aliran listrik.

Jika hari ini air tidak mengalir seharian...
Maka orang-orang yang pada berlanggan PDAM, akan segera bertanya ke kantor PDAM, kenapa air tak mengalir. Keluhan tidak bisa, mandi, mencuci, masak dan hal lainnya akan terucap. Mereka lupa bahwa ada saudara-saudara kita yang saat ini hidup di daerah yang kekurangan air. Kita dihadapkan dengan masalah sehari saja air tak mengalir sudah kelabakan. Lalu bagaimana dengan mereka yang harus mengambil air puluhan kilometer, mencuci di sungai-sungai yang mulai kering? Rasanya keluhan kita tak pantas terucap.

Jika hari ini tidak ada tabung gas, BBM pada kosong...
Maka orang-orang pada bertanya ke Pertamina. Daripada protes lebih baik menyalakan api dalam tungku, dengan bahan bakar kayu atau menggunakan arang buat memasak bagi yang niat memasak. Repot-repot sedikit kenapa susahnya?

Jika hari ini harga-harga sembako pada naik... Maka rakyat wajib protes kepada pemerintah ! Tak ada alasan untuk tidak protes.

Dan jika hari ini matahari tak bersinar...
Apakah semua orang akan bertanya kepada Tuhan? Protes kepadaNya? Lalu siapakah kita sampai berani bertanya?
Mengingat setiap hari matahari rutin selalu bersinar, dan sangat sedikit orang yang bersyukur dan mengucapkan terima kasih.
Dan kala matahari tidak terbit semuanya pada protes dan merengek-rengek kayak anak kecil.

Ya...namanya juga manusia.
Sering protes sana-sini.
Terkadang tak peduli siapa yang dihadapinya.
Jika orang-orang modern ini tiba-tiba berada di jaman batu.
Mungkin mereka akan mengerti artinya bersyukur.
-siGal-

Sabtu, 23 Juli 2011

Refleksi hari anak nasional.

Kira-kira dua tahun yang lalu saya mendapat cerita dari teman yang kerja di Departemen Sosial. Bahwa dalam penelitan dan wawancara tlah mulai ditemukan anak-anak usia SMP sudah menjadi pelangaan warung protitusi Ngebong. Mendengar cerita itu saya sungguh prihatin bagaimana perilaku itu bisa merambah ke anak-anak usia SMP? Dan bagaimana jika mereka terkena penyakit menular seks? Perjalanan mereka masih panjang buat mengejar cita-cita.
Kalau mau marah sama siapa?

Berikut saya utarakan sekilas tentang Ngebong yang diambil dari beberapa sumber.
Ngebong: Bursa Pelacuran Termurah di Jogja. Ngebong memang berbeda dengan pusat pelacuran yang lain. Bursa seks yang terletak di sebelah barat Stasiun Tugu ini telah bertahun- tahun menjadi bursa seks bagi kalangan bawah. di Jogja. Disini banyak waria dan wts setengah tua. Para PSK ini umumnya alumni Sarkem, Samas, Blongkeng dan bursa-bursa terkenal lainnya. Di Ngebong transaksi biasanya dilakukan di warung- remang-remang di sepanjang rel kereta api. Soal tarif super murah, WTS paling tinggi cuma Rp 30.000, kalo main sama bencong cukup 10.000 itupun masih bisa nego. Kalau pas lagi sepi, nilai transaksi bisa lebih jeblog lagi. nggak usah kaget kalau ada perempuan teriak: "walah... limangewu wae diutang .... (lima ribu aja ngutang). Soal tempat main ini yang paling spesial. Disepanjang rel kereta api tersedia gubug-gubug kecil, tapi kalo pengin lebih ngirit sewa tikar aja.

Itu tadi cerita dua tahun yang lalu, apakah di tahun ini masih banyak atau malah berkurang anak-anak usia sekolah yang sering maen ke ngebong? Nampaknya orangtua perlu berhati-hati dalam mengawasi pergaulan anak-anaknya. Pendidikan dan pengawasan guru di sekolah yang hanya terbatas pada jam sekolah. Dibutuhkan pendidikan dan pengawasan lebih dari keluarga. Celakanya lagi jika anak tidak mendapat perhatian dan kasih sayang yang cukup dari keluarga.

Semoga dalam menyambut hari anak nasional ini semua pihak tak terkecuali memikirkan keberlangsungan masa depan anak-anak Indonesia. Itu tadi hanya sebagian kecil dari berbagai kasus. Dan saya yakin masih banyak persoalan yang membutuhkan uluran tangan kita.
"Tetap Semangat Anak-anak Indonesia!"
-siGal-

Total Tayangan Halaman

Persembahan Hati