ku berjuang sampai akhirnya Kau dapati aku tetap setia

Thursday, November 3, 2011

Hanya untaian doa

Karangan Bunga

Mendung sudah mengelayuti langit kota menjelang sore. Awan hitam merata di atap kota. Tinggal hitungan detik hujan deras pasti turun. Benar juga tak berapa lama hujan turun dengan derasnya. Hujan yang disertai angin, ah rasanya hal yang paling menakutkan. Teringat akan tahun lalu, hujan dan angin kencang memporak porandakkan atap genting rumah.
Hujan sore itu, membuat rasa cemas semakin menjadi-jadi. Sambil berdoa dalam hati, agar angin tak lagi memporak porandakan atap rumah. Tepat pukul 15.45 hujan deras berangsur-angsur reda. Awan kelam seperti tlah disibakkan dan berganti dengan awan putih. Kulangkahkan kaki untuk mengikuti perayaan ekaristi arwah. Baru kali ini aku tak membawa keranjang bunga untuk dimintakan berkat.

Misa berlangsung satu jam, dan tak turun hujan setetespun.
Setelah perayaan selesai,baru aku merasa ada yang kurang. Biasanya kami lalu pergi ke pusara bapak, simbah serta sanak saudara yang meninggal untuk tabur bunga. Namun kali ini tak ada tabur bunga
Walau tak ada untaian bunga di pusara, namun semoga keharuman doa yang kami panjatkan senantiasa membumbung tinggi ke Rumah Bapa di surga, Amin.
Photobucket

No comments:

Total Pageviews

Persembahan Hati

Mentega dengan Roti