Tampilkan postingan dengan label belajar dari alam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label belajar dari alam. Tampilkan semua postingan

Jumat, 13 Januari 2012

"Segeeernya air degan"

Kelapa muda

Sungguh sejuk berteduh di dalam sebuah gubuk yang menjajakan es degan (kelapa muda). Segarnya air degan terasa menghalau panasnya siang yang cukup terik. Tak jauh dari gubuk itu, menjulang tinggi beberapa pohon kelapa. Sambil meminum air degan langsung dari batok kelapa, pandangan mata tertuju pada lambaian nyiur kelapa. Sungguh tinggi sekali pohon kelapa yang ada di depan itu. Mungkin pemilik gubuklah yang membeli kelapa-kelapa muda yang ada di depan warungnya? Mungkin juga itu pohon miliknya sendiri?

Ah, tak perlu memusingkan siapa pemilik pohon kelapa yang menjulang tinggi itu, yang penting sungguh segar air degan ini. Tetapi dari mana air degan ini berasal, kalau tidak dari air yang diserap dari akar-akar pohon kelapa. Akar-akarnya yang tak pernah lelah mencari dan menyerap sumber-sumber air. Setelah didapat lalu dialirkan dan didistribusikan dari pangkal sampai ujung pohon. Dari akar, naik ke batang, pelepah daun, daun hingga buahnya. Dengan air yang ada mampu membuat buah berkembang, hingga akhirnya ada air segar yang terdapat di dalam degan ini. Jika boleh dihitung, berapa lamakah perjalanan air dari akar, hingga terdapat di dalam buah kelapa? Tentu membutuhkan waktu yang sangat lama. Waktu lama itu lah yang mampu memurnikan air itu menjadi segar dan enak untuk diminum.

Dari air yang diserap oleh akar, semua bagian pohon kelapa, semuanya dapat menjadi berguna bagi manusia. Padahal manusia tak pernah sedikitpun menyirami pohon yang terkenal menjulang tinggi ini. Entah musim kemarau, ataupun musim penghujan, akar-akarnya tetap senantiasa bekerja tanpa kenal lelah.

Duh belajar dari mana asalnya air degan, membuat aku tersadar bahwa tuk menjadi air degan yang segar membutuhkan perjuangan yang tak mudah. Jalan panjang dan berliku harus mampu tuk dilewati. Usaha pantang menyerah, tekun dan sabar harus tetap dijalani. Di tengah kesulitan air di daerahnya, akar-akarnya tetap setia mencari air. Walaupun manusia jarang menyiraminya, walaupun panas terik mentari di siang hari, akar-akarnya tetap mampu menopang pohon kelapa untuk tetap berdiri kokoh dan mampu menghasilkan segarnya air degan. Mari belajar dari segarnya air degan.

Sabtu, 04 Juni 2011

Pengasuhan Teraneh dalam dunia satwa

Pengasuhan Teraneh dalam Dunia Satwa
(Wikimedia Commons)
Dalam dunia satwa, beberapa induk punya cara yang berbeda untuk jadi "ibu" yang baik. Berikut ini adalah beberapa teknik aneh untuk jadi ibu yang baik dalam dunia satwa.
Ayam
Ayam harus menghasilkan kalsium karbonat yang banyak untuk kulit telur. Ketika ayam tidak memperoleh cukup kalsium pada makanan, ayam akan menggunakan kalsium daritulang mereka sendiri untuk digunakan dalam pembuatan kulit telur.
Burung Cuckoo
Cuckoo melepaskan tanggung jawab mengurus anak pada burung lain. Diam-diam mereka menaruh telur di sarang burung lain, biasanya spesies burung yang lebih kecil. Ketika menetas,anak burung cuckoo lebih besar dari anak burung lain. Dengan demikian anak burung cuckoo dapat memaksa anak-anak yang lain untuk keluar dari sarang danmati. Ia pun memperoleh berhatian penuh dari induk yangterpaksa mengadopsinya.
Semut Pengisap Darah
Ini orang tua yang mengajarkan anaknya untuk jadi "kanibal". Induk semut Adetomyrma, juga semut pekerja, membuat lubang di tubuh bayi-bayi semut untuk menyedot cairan tubuh, yang seperti darah pada mamalia. Semut-semut bayi yang disedot cairan tubuhnya itu tidak mati. Para ilmuwan belum mengetahui alasan penyedotan cairan tersebut. "Mungkin latihan kebiasaan," jelas ilmuwan. Kebiasaan yang dimaksud adalah kebiasaan transfer cairan antarsemut saat dewasa.
Paus Abu-abu
Paus bernama latin Eschrichtius robustus ini melakukan perjalanan sangat jauh untuk melindungi anak mereka. Mereka bermigrasi dari Kutub Utara yang dingin tapi kaya sumber makanan ke lepas pantaiMeksiko yang tropis tapi miskin sumber makanan untuk melahirkan. Migrasi ini dilakukan agar anak-anak mereka nanti terhindar dari predator. Dengan terbebas dari predator, paus dapat memberi makan dengan susu kaya lemak (53 persen lemak) dan memberi waktu pada anak-anak mereka untuk membentuk lapisan lemaksebelum kembali ke Kutub Utara yang dingin. Induk paus bisa merasa lapar berbulan-bulan meskipun harus menghasilkan susu berkalori tinggi. Pada masaini, mereka dapat kehilangan bobot hingga 8 ton.
Laba-laba
Pada beberapa laba-laba Stegodyphus sp., pengasuhan tidak sekadar mengawasi sarang. Induk menempelkan telur-telur mereka ke jaring dan mengawasinya sampai telur menetas. Setelah itu, induk makan seperti biasa, tetapi merelakan sebagian besar makanan menjadi sup nutrisi untuk keturunannya. Ketika bayi-bayi mereka sudah berumursekitar sebulan, induk akan terlentang. Anak-anak mereka naik ke atas tubuh induk dan membunuhnya dengan menyuntikkan racun yang menghancurkan isi tubuh. Tubuhsang induk dimakan. Setelah itu,anak-anak laba-laba akan saling kanibal sebelum meninggalkan sarang.
Kutu Laut
Melahirkan bisa jadi proses yang menyakitkan. Bayangkan sebuahkutu laut. Saat melahirkan, ia membiarkan bayi-bayinya membuka jalan sendiri dengan menggerogoti tubuhnya dari dalam.
Katak Beracun
Katak beracun Dendrobates azureus bisa jadi induk super. Setelah bertelur dan menetaskan, katak berwarna merah tersebut membawa anak-anaknya, satu per satu, ke atas pohon yang tingginya bisa mencapai 30 meter. Di atas, ia mencari semacam kubangan air di daun. Satu kubangan untuk satu anak. Katak beracun itu memberi makan anak-anaknya dengan telur yang tidak dibuahi selama enam hingga delapan minggu. (Sumber: LiveScience)

Senin, 30 Mei 2011

alasan kenapa kalau waktu suit semut menang melawan gajah

Petani bisa pakai semut untuk usir gajah


Berdasarkan hasil percobaan, Todd Palmer dari University of Florida dan Jacob Goheen dari University of Wyoming menarik kesimpulan kalau para petani bisa menggunakan semut untuk menghalau gajah masuk dan merusak lahan pertanian.
Ide Palmer dan Goheen itu muncul saat meneliti pola makan gajah di savana di Kenya. Mereka mendapati ada anomali pada pola makan gajah. Mamalia besar itu memakan hampir semua yang ada di depan mereka, kecuali 1 jenis pohon Acacia drepanolobiom yang dikerubungi semut.
Palmer dan Goheen membuat beberapa percobaan untuk mengetahui penyebab gajah melewati pohon itu. Pohonnya atau semutnya? Mereka memberibeberapa gajah empat ranting. Dua ranting dari pohon yang jadimakanan favorit gajah, Acacia mellifera--satu ranting bersih dari semut, satu lagi dikerubungi semut. Dua ranting lainnya berasal dari pohon Acacia drepanolobiom yang menjadi rumah semut. Ketika diberikan kepada gajah, satu ranting dibersihkan dari semut, sedangkan satu lagi tetap bersemut.
Ternyata, gajah tetap memakan ranting Acacia drepanolobiom selahap mereka memakan pohonfavorit mereka. Dengan catatan, tidak ada semut di ranting itu. Gajah tidak mau memakan ranting yang bersemut meskipun ranting itu berasal dari pohon favorit mereka."Mereka menghindari ranting bersemut itu seperti anak kecil menghindar ketika diberi brokoli," jelas Palmer kepada Discovery News.
Melalui pengamatan selanjutnya,para peneliti mengetahui kalau bagian dalam belalai gajah sangat sensitif. Ketika gajah mencoba memakan ranting pohon yang dikerubungi semut, belalainya bisa diserang sekolonisemut. Para peneliti kemudian membandingkan perubahan jumlah pohon tempat tinggal semut dengan jenis pohon lain di Lewa Wildlife Conservasy di Kenya pada tahun 2003 dan 2008. Vegetasi pohon tanpa semut berkurang, sedangkan vegetas pohon yang ditinggali semut nyaris tak berubah."Semut ternyata memainkan peran besar dalam menjaga ekosistem dengan menjaga stabilitas jumlah pohon," kata Palmer.
Jika semut bisa bertindak sebagai penjaga pohon di hutan,seharusnya semut juga bisa dipakai untuk menjaga tanamanpertanian sehingga konflik antara manusia dan gajah bisa berkurang.
Sumber: Discovery News
Foto: Doc/stock.xchng
dikutip dari national geograpic Indonesia

Senin, 23 Mei 2011

burung pelikan

Belajar dari burung pelikan

Burung pelikan menjadi simbol pengorbanan karena ujung paruh mereka yang berwarna merah. Bila ibu pelikan tidak dapat mencari makanan untuk anaknya, ia akan menusukkan paruhnya ke dalam tembolok/dadanya dan memberikan darahnya sendiri untuk anak-anaknya. Seperti salah satu gambar yang ada di gereja St.Antonius Kotabaru. Itu sebabnya pula mengapa lambang tongkat Uskup Agung Semarang berupa induk burung pelikan. Mari kita senantiasa rela berkurban dengan tulus hati bagi sesama kita.
-siGal-

Total Tayangan Halaman

Persembahan Hati